HARI KEDUA DALAM TANTANGAN 10 HARI KOMUNIKASI PRODUKTIF

Hari sabtu, tanggal 3 Juni kemarin saya pilih sebagai hari kedua latihan komunikasi produktif saya, baik kepada anak-anak maupun kepada suami.

Tantangan pertama terjadi pada saat bangun tidur. Saya dan suami kesiangan bangun sahur, jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00. Setengah berlari, saya mengeluarkan makanan dari kulkas, menghangatkannya dan menyajikannya di meja makan. Taklupa juga memblender susu dan kurma kesukaan anak-anak dan abinya. Stelah memasytikan semuanya siap, saya membangunkan anak-anak. Rekasi pertama Afifah adalah, “Kok aku ga dibangunin pertama kali?’ (malam sebelumnya dia berpesan untuk dibangunkan pertama kali, sebelum abi dan adiknya bangun. Mukanya langsung manyun. Saya langsung menjelaskan kalau yang membangunkan ummi malah abi, jadi abi yang bangun pertama kali. Mukanya masih manyun. Setelah menarik napas, saya rangkul dia, akhirnya dia mau beranjak ke meja makan untuk sahur. Alhamdulillah tantangan pertama terlampaui.

Tantangan kedua, Setelah sholat subuh, si Abi menyuruh mbak Afifah untuk mengaji, entah apa jawaban afifah, abinya jadi tidak enak hati, suaranya sempat meninggi. Afifah mukanya ditekuk lagi. Saya, yang baru saja selesai sholat subuh, minta Afifah mendekat. Saya elus dia, dan ajak bicara. “yuk ngaji sama umi” kata saya. Alhamdulillah Afifah mau. Akhirnya dia mengaji surat Almuthaffifin, saya menyimak dan membetulkan bila ada yang salah. Setelah selesai, saya minta Afifah minta maaf ke abinya, karena telah membuat abinya marah. Ternyata abinya masih marah, Afifah kembali ke saya dengan menangis. Saya tenangkan, peluk dia dan memintanya mengerjakan hal lainnya untuk mengalihkan perasaannya.

Takberapa lama, saya lihat WA. Ternyata suami mengirim pesan di WA, yang intinya beliau kecewa, kecewa dengan keras kepalanya afifah, termasuk dengan saya. Reaksi pertama saya adalah menghela napas..hehe (lha cuma beda kamar kok yo pakai wa ;D). Cuma, saya mencoba memahami cara komunikasi suami yang memang cenderung tidak dengan tatap muka dan bicara secara langsung. Setelah menata hati, dan menerima sedikit rasa kecewa, saya mendekati beliau, yang sedang dalam posisi membelakangi saya sambil mendengarkan murottal. Sambil menyusui si bayi Maryam, saya elus punggung beliau (ini efektif untuk meminta perhatian sekaligus menurunkan egonya), sesekali saya jelaskan perihal kekecewaan beliau tadi. Apakah ada reaksi? tidaaaak, yang ada suami ngorok, hoho. Tapi saya yakin kok suami mendengar, dan terbukti siangnya komunikasi kami sudah normal seperti sebelumnya.

Tantangan ketiga, pada saat siang hari. Si tengah Qisthi, biasa kalau siang hari ngeluh haus haus..dia pengen membatalkan puasanya. Saya ingatkan janjinya pada saat sahur untuk puasa penuh sampai magrib. Dia tetep nangis. Saya ingatkan puasanya tahun kemarin yang bisa full sampai sore, tetep nangis juga. Akhirnya saya ajak dia bobo. Tangisnya tambah kenceng, menjerit-jerit lebay. Saya, daripada jadi emosi , memilih diam. Saya biarkan dia nangis-nangis, sambil saya ingatkan tentang komitmen umminya . Setelah beberapa lama dia nangis, umminya tetep kekeuh, akhirnya saya tawari lagi untuk bobo. Alhamdulillah mau juga dia. Hari itu puasanya sampai magrib lagi, Alhamdulillah.

Demikianlah tantangan hari kedua saya dalam berlatih komunikasi produktif. Ini tantangan beraattt buat saya, tapi semoga saya bisa melewatinya dengan sukses. Amiin

 

#level1

#day2

#tantangan 10 hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

 

Tutik Sulistyawati

Kelas Bunsay IIP Tangsel

Pondok Aren, 5 Juni 2016

Iklan

WWL-nya Afifah dan Qisthi

      Tiap anak punya ceritanya sendiri. Begitupun Afifah dan Qisthi saat kami mulai menyapihnya. Kami, karena menyapih bukan hanya peran seorang ibu tapi juga atas dukungan seorang ayah. Alhamdulillah..selama proses menyapih keduanya mendapat dukungan dari abinya.

        Afifah mulai disapih saat berumur 2 tahun. Sebenarnya, sejak berumur 15 bulan sudah ada adek bayi di perut umminya. Saat itu banyak pihak terutama keluarga yang menyarankan untuk menyapih Afifah. Alasannya kasian mbak afifah, nanti badannya bisa kurus. Namun, karena sudah membekali diri dengan artikel-artikel mengenai Nursing Whle Pregnant (menyusui ketika sedang hamil) kami tetap memutuskan untuk tetap memberikan ASI kepada Afifah. Terlebih tidak ada keluhan yang dirasakan pada kehamilan kedua selama menyusui Afifah.

       Mendekati milad ke-2 tahunnya, kami mulai khawatir. G mungkin rasanya tetap menyusui Afifah disamping menyusui adeknya. Meskipun ada beberapa artikel yang membahas tandem nursing, ketakutan akan kecemburuan Afifah terhadap adeknya membuat kami tetap memutuskan  untuk menyapihnya. Lagipula dia sudah 2 tahun, insyaAllah sudah sesuai dengan perintah menyusui anak selama 2 tahun dalam Alqur’an.

     Setelah membaca beberapa artikel mengenai WWL, kami bertekad akan menerapkannya pada Afifah. Menjelang usianya 21 bulan, kami mulai ngomong pelan-pelan bahwa mbak Afifah sudah besar g nen lagi..nen buat adek bayi…dia manggut2 aja..Saat usianya 2 tahun..saya benar-benar berhenti menyusuinya. Dan sesuai saran WWL, kami tidak memakai oles-olesan apapun maupun pergi ke orang pintar. Dugaan kami Afifah sudah mengerti, ternyata dia masih kaget. Untuk tidak nen pada siang hari masih bisa lah…tapi untuk malam hari kami harus berjuang keras.  Afifah punya kebiasaan bangun pada malam hari, 2-3 kali untuk menyusu. Saat kami menyapihnya, kami menyiapkan air putih dan susu uht untuk mengalihkannya. Ternyata itu tidak berhasil. Afifah yang memang punya kebiasaan tantrum, menangis2 dan teriak-teriak….kami mencoba membujuknya pelan-pelan. Namun tangisan dan teriakannya semakin keras. Kamipun terpancing, bukan lagi bujukan, tapi teriakan yang keluar dari mulut kami (sedih mengingatnya…maafkan kami ya nak..). Ketika abinya tersulut, Afifah menangis, akhirnya sayalah yang membujuknya. Saya meyetel vcd anak2 kesukaan Afifah..kemudian dia saya baringkan di depan tv. Sambil menonton, akhirnya matanya terpejam…Tragedi tu berlangsung seminggu lamanya. Pada malam ke delapan..ketika mau bobo tiba2 Afifah bilang ‘Mb Afifah g nenen lagi..nenennya buat adek bayi y ummi..” duh terenyuh hati saya. Malam harinya dan malam2 berikutnya afifah sama sekali tidak minta nen. Alhamdulillah…terima kasih ya Allah.

        Kalau ingat saat menyapih itu..perasaan bersalah masih saja menghampiri. Perasaan bersalah karena ‘hadirnya’ adeknya terlalu awal, sebelum dia berusia 2 tahun..sehingga kami menjadi terburu-buru menyapihnya. Dan perasaan bersalah karena kami telah bersikap kurang baik saat masa2 menyaph itu. Makasih ya Mbak Afifah sudah membantu Abi Ummi….

(Bersambung)

Ini lho Dinda…

          Sejak beberapa waktu yang lalu..saya mem-follow akun fb Pak Cah, sapaan akrab dari Cahyadi Takariawan. Beliau seorang konselor pernikahan dan juga penulis. Buku yang dikarangnya antara lain Kado Pernikahan untuk Istriku, sebuah buku yang wajib dimiliki oleh mereka yang hendak memasuki gerbang pernikahan. Nah, akun pak Cah ini aktif sekali memberikan tips-tips menarik dan pengetahuan baru seputar dunia pernikahan. Biasanya, setelah menemukan postingan yang menurut saya ‘sesuai’, langsung saya share dan taklupa di mention ke suami, hehe. Biar sama-sama belajar gitu..

          Salah satu postingan yang menarik, dan mendapatkan komentar ‘setujuh’ dari suami saya (berarti cocok banget tuh kalo komentarnya kayak gitu … ;D) adalah postingan mengenai perasaan suami yang sering tidak diungkapkan secara lisan. Ini nih postingan lengkapnya :

Tiga perasaan suami kepada istri yang sering tidak terungkapkan secara lisan.

  1. “Jika di rumah aku tak banyak bicara, jangan anggap aku tak lagi mencintaimu. Aku merasa telah menyatakan cinta dengan perbuatan nyata, seperti bekerja mencari nafkah, pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga, dan lain sebagainya. Aku memang tak pandai merangkai kata-kata cinta”.
  2. “Jika aku tak pandai bahkan tak bisa merayu, jangan anggap aku tidak memperhatikanmu. Kehadiranku di rumah bersamamu dan anak-anak adalah bukti perhatianku. Aku memang tidak biasa romantis, namun aku selalu berusaha memberikan perhatian semampuku”.
  3. “Jika aku tak pandai bahkan tak bisa mengekspresikan perasaanku kepadamu, jangan anggap aku tak lagi memerlukanmu. Melihatmu di sampingku saja aku sudah bahagia. Apalagi saat bersama anak-anak. Tentu aku sangat memerlukanmu walau aku tak pernah menyatakan hal itu kepadamu”.

          Senyam senyum saya pertama kali membaca postingan ini. ‘Ooo…ternyata gitu tho’, pikir saya. Bukan rahasia umum lagi (halahh…) kalo banyak istri yang sering mengeluh dan mempertanyakan tentang hal ini. Lhaa…wanita itu kan makhluk melankolis+romantis+dramatis…buktinya, drama korea, novel-novel romantis dan roman picisan sangat digandrungi oleh para wanita. Mana ada coba laki-laki yang menyukai drama korea,,,kalaupun ada..aneh!! Wanita sangat mudah terbuai oleh kisah-kisah percintaan yang romantis dan cenderung bahagia sepanjang masa. Ketika mereka menikah, mereka bisa jadi membayangkan kisah-kisah romantis tersebut akan mereka temui pada kehidupan nyata, bersama suami mereka. Setangkai bunga mawar, lagu cinta yang dinyanyikan khusus buatnya maupun hidangan yang dipersembahkan suami untuknya merupakan sebagian impian itu (bukan curcol y..bukannn). Sayangnyaaaa…..impian hanya impian. Begitu banyak istri yag mengeluh ‘kok suamiku g romantis y?’, atau menanyakan ‘apakah suamiku benar2 mencintaiku?’. Dan para suami, ketika ditanyakan hal itu hanya melongo..

          Ternyata..ada perbedaan pengungkapan cinta antara seorang wanita dan laki2. Wanita ccenderung ingin semua perasaan cinta, sayang de el el diungkapkan secara lisan, dengan simbol-simbol, seperti mawar, lagu dsb. Nah ternyata laki2 punya cara sendiri untuk mengungkapkan perasaan cinta dan sayangnya. G nyambung y?memang!

           Setelah membaca postingan ini, salah satu hal yang melegakan adalah ketika suami kita diam atau terkesan cuek sebenarnya mereka tetap cinta dan sayang kok. Wahai para wanita..don’t worry y..meskipun suami kita telah memberikan semua hal yang terbaik bagi kita dan keluarga, itu adalah ungkapan rasa cinta dan sayangnya kepada kita. Jadi teringat lagunya Base Jam jaman masih muda dulu…kayaknya cocok banget deh…

Mungkin aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata

Ku tak slalu kirimkan bunga untuk ungkapkan hatiku

Mungkin aku takkan ernah memberi intan permata

Mungkin aku takselalu ada di dekatmu

……………………………………………………

Satu yang kupinta yakini dirimu hati ini milikmu

Semua yang kulakukan untukmu lebih dari semua kata cinta untukmuu

 

#Keep smile…

WWL (2)

       Pada bagian pertama, kita sudah mmbicarakan mengenai pengertian dari WWL atau menyapih dengan cinta. Berikut ini merupakan langkah-langkahnya, yang disarikan dari http://www.ayahbunda.co.id:

  1. Ibu harus menentukan waktu yang tepat untuk mulai menyapih anak. Kemudian, kurangi frekuensi menyusui secara bertahap dimulai pada siang hari. Pengurangan ini untuk mengurangi ketergantungan anak sedikit demi sedikit terhadap proses menyusui. Selain itu, tambah pemberian MP-ASI sebanyak 3-4 kali sehari untuk mengurangi pemberian ASI pada siang hari.
  2. Tetapkan tempat menyusui hanya pada satu tempat, misalnya di kamar. Gunanya agar si kecil tidak meminta susu di sembarang tempat sekaligus mengajaknya untuk belajar mengenal aturan.
  3. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang selama proses menyapih, misalnya mendekap, mengusap atau menciumnya, katakan padanya bahwa Anda tetap menyayangi dia meski Anda sudah tidak menyusuinya lagi.
  4. Bulatkan tekad. Artinya Anda benar-benar siap untuk melepaskan aktivitas ini. Bila Anda ragu-ragu, Anda akan kesulitan sendiri. Keraguan Anda terbaca oleh anak. Alhasil, anak pun tidak rela disapih. Anak pasti akan rewel dan tidak nyaman selama proses menyapih ini, tapi itu merupakan hal yang wajar, dia merasa akan kehilangan sesuatu yang sangat disukainya.
  5. Sapih anak saat ia dalam keadaan sehat, karena dalam keadaan sakit ia akan semakin butuh kelekatan dengan Anda.
  6. Libatkan suami sebagai orang yang mampu menghibur dan mengalihkan perhatian anak ketika rewel minta ASI. Proses menyapih ini memerlukan kesiapan semua pihak, baik anak, ibu, maupun ayah.
  7. Berikan penjelasan pada anak mengapa ia harus disapih. Misalnya, “Ayo, kamu sudah besar, sudah tidak perlu lagi menyusu bunda. Makan kue saja yuk. Atau minum susu di cangkir?” Lakukan dengan sabar, lembut dan cinta Anda. Jangan pernah bosan untuk memberikan alasan padanya.percayalah, anak anda sebenarnya mengerti.
  8. Ganti aktivitas menyusu dengan membaca buku atau mendongeng sebelum tidur. Berikanlah aktivitas-aktivitas yang ia sukai agar mengalihkannya dari keinginan menyusu.

       Sebagai seorang ibu, proses menyapih ini merupakan proses yang sangat berat, karena berarti ia harus rela ‘melepaskan’ anaknya dan mengurangi ketergantungan anaknya terhadap dirinya. Tapi ibu, percayalah, ini proses yang akan dilewati oleh semua orangtua..anak kita memang akan terus tumbuh besar dan kelak akan menjalani kehidupannya sendiri. Tugas kita adalah memberikan bekal yang terbaik bagi mereka

Sumber : Ayahbunda

Weaning With Love (WWL)

 Weaning With Love (WWL) ini diartikan sebagai menyapih dengan cinta. Menyapih berarti melepaskan si anak dari ketergantungan terhadap ibunya selama masa menyusui. Menyapih ini merupakan proses yang sangat berat, karena saat menyusui merupakan saat terjadinya kontak batin yang paling erat antara seorang ibu dengan anaknya, bukan sekedar mencukupi kebutuhan nutrisinya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan dari semua pihak, anak dengan kesiapanya untuk lebih ‘mandiri’, ibu untuk rela kehilangan rasa ‘dibutuhkan’ oleh anaknya dan bahkan ayah dengan kesiapannya untuk membantu sang ibu dalam proses menyapih ini.

Orangtua jaman dahulu biasa mengoleskan sesuatu yang pahit, semisal brotowali, mahoni dll ke puting si ibu agar anak merasa pahit kemudian tidak mau menyusu lagi. Beberapa diantaranya langsung datang ke orang ‘pintar’ untuk minta suwuk (jampi-jampi) agar si anak lupa menyusu tanpa perlu rewel. Sekarang cara tersebut dianggap bisa menyakiti si anak. Si anak seperti dilepaskan secara paksa dari sesuatu yang disukainya.

Paradigma menyapih pun sekarang sudah bergeser. Jaman dahulu dan juga berdasarkan Al-qur’an, menyapih itu dilakukan di usia dua tahun. Keterangannya tertera dalam surah al-Baqarah ayat 233, Luqman ayat 14, dan al-Ahqaf ayat 15. Surah al-Baqarah ayat 233 menyebutkan , “Para ibu hendaklah menyusukan anakanaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”. Begitu juga dalam Alquran surah Luqman ayat 14. Ayat tersebut menjelaskan, “Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun…”. Sedangkan, dalam surah al-Ahqaf ayat 15 menyebut, “Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tunya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan…”. Hal ini berdasarkan asumsi bayi dalam Islam paling muda dilahirkan dalam usia kandungan enam bulan. Ditambah 24 bulan menyusu, jadi sama dengan 30 bulan. Jadi, dari ketiga surat tersebut Allah memang menghendaki menyapih anak pada usia dua tahun.

Sedangkan saat ini, ibu-ibu modern cenderung menganut paham bahwa menyapih tidak harus dilakukan pada usia 2 tahun, dasarnya adalah Pernyataan WHO dan UNICEF di Geneva pada tahun 2001, “Tidak ada keharusan anak disapih pada usia 2 tahun. Benar bila ibu menyusui bayi secara eksklusif di enam bulan pertama kehidupannya. Kemudian ASI dapat dilanjutkan secara bersamaan dengan MP-ASI hingga anak berusia 2 tahun. Tapi tidak ada keharusan kapan harus menyapih.” Penelitian Dewey KG, Pediatric Clinics of North American, tahun 2001, ASI masih boleh diberikan pada anak usia 2 tahun karena masih mengandung: 43% protein, 36% kalsium, 75% vitamin A, dan 60% vitamin C.

Inilah yang disebut dengan Weaning With Love (WWL), yaitu proses menyapih dilakukan secara pelan-pelan, tanpa menggunakan paksaan, dan menunggu kesadaran dari si anak untuk mau melepaskan diri dari menyusui. (Bersambung)

Menjaga diri

Saya mengartikan menjaga diri ini sebagai menjaga/memelihara diri sendiri dari segala hal yang berpotensi mendatangkan mudharat atau berakibatkan dosa. Mengapa menjaga diri ini penting?saya teringat salah satu ayat dalam Al-qur’an : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An Nuur: 26). Meskipun kadang kita jumpai dalam kenyataan sehari-hari, ada laki-laki yang baik tapi menikah dengan wanita yang kurang baik perangainya, begitupun ada wanita yang sholihah tapi memiliki suami yang kasar dan buruk perangainya. Tapi ayat diatas bisa kita jadikan pegangan sebagai suatu janji Allah bagi setiap hambanya. Bahwa ketika kita sudah baik, sudah mensholihkan diri, yakinlah bahwa Allah akan memberikan jodoh yang baik bagi kita. Pun jika kita menginginkan seseorang yang baik untuk menjadi suami/istri kita maka konsekuensinya kita harus memperbiaki diri terlebih dahulu.

Nah, bagi yang sudah menikah, tetap begitu jugga ya perlakuannya. Jadi, ketika kita ingi suami kita selalu berada pada jalan kebaikan, maka kita pun harus selalu berusaha memperbaiki diri. Pun sebaliknya, ketika kita hendak melakukan sesuatu yang ‘menyimpang’ atau ‘berbahaya’ maka ingatlah, bisa jadi pasangan kita, suami/istri kita juga akan melakukan hal yang serupa. Semuanya berlaku timbal balik ya, tidak bisa kita mengharapkan seseorang itu baik, tanpa kita sendiri yang memulai untuk selalu berada pada jalan kebaikan.

Medela Manual Breast Pump

Marhaban yaa Ramadhan…sebentar lagi ramadhan kembali menyapa kita. Menjelang ramadhan seperti ini, jadi teringat kembali ramadhan 2 tahun lalu. Saat itu merupakan terakhir kali saya menggunakan Pompa ASI dan mulai belajar memerah asi menggunakan tangan.

Sebenarnya tidak pernah kepikiran sama sekali untuk membeli alat ini. Sejak awal kehamilan, saya dan suami bertekad akan memberikan ASI saja kepada anak kami. Setelah melahirkan, alhamdulillah ASI langsung keluar. Rencananya, 2 minggu menjelang masuk kerja, saya mau mulai menyetok ASIP. Kirain memerah itu mudah, ternyata….sulit. Dengan modal nekad, saya menggunakan tangan untuk memerah. Perkiraan saya akan dapat paling tidak 50 ml ASI, ternyata di luar dugaan, untuk mendapatkan 10 ml saja lamanya bukan main, dan itupun tangan saya sampai merah-merah karena cara memerahnya yang salah. Setelah mencoba beberapa kali dan waktu masuk kerja semakin dekat, akhirnya saya menyerah untuk membeli pompa.

Setelah searching-searching di google dan nanya teman yang sudah punya anak, akhirnya suami pergi ke Cempaka Mas, tentunya dengan membawa pesan saya ‘beli yang paling murah ya’, he biar ngirit… Ternyata disana banyak sekali babyshop yang menjual berbagai macam pompa. lumayan lama suami muter-muter di sana, nyari yang paling cocok, dan sibuk menawar. Setelah hampir 3 jam, akhirnya suami pulang. Pompa yang akhirnya dibeli adalah Medela Manual Breastpump.

 Medela Manual Breastpump ini dibeli dengan harga Rp 175.000, jauh lebih murah dari yang elektrik. Kelengkapannya tediri dari corong penghisap, membran, piston, botol dan dudukan botol. Pemakaiannya dengan cara menarik dan mendorong pistonny. Tekanan hisapan pompanya bisa diubah-ubah tergantung kemampuan kita.

Awal-awal menggunakan pompa ini hanya sedikit sekali asi yang keluar, karena belum terbiasa kali ya.. Setelah beberapa lama, mulai terlihat hasilnya. Masalah mulai muncul pada saat bulan ramadhan. Karena puasa kan badan jadi lemes, sedangkan penggunaan pompa medela ini perlu tenaga yang lumayan banyak. Pada hari-hari biasa saja saya bisa ngos-ngosan apalagi pada bulan ramadhan. Karena takut produksi asi menurun karena tenaga terkuras, akhirnya saya mulai belajar memerah asi menggunakan tangan.

Setelah mahir memerah asi menggunakan tangan, akhirnya pompa medela nya saya pensiunkan. Pernah ada teman yang pinjem, cuma katanya akhirnya g dipake juga. Demikian pengalaman saya menggunakan Medela Manual Breastpump. Semoga bermanfaat..