ALHAMDULILLAH….(LULUS) (S1) ASI !!!!

Tanggal 4 Oktober kemarin menjadi saat istimewa buatku. Alhamdulillah, segala puji terucap bagi Allah, anakku tersayang, Afifah genap 6 bulan, yang berarti lulus ASI eksklusif. Bahagia sekali rasanya mengingat perjuanganku selama 6 bulan ini akhirnya berbuah manis. Terbayang kembali saat-saat penuh pengorbana pada awal-awal dulu. Alhamdulillah………….

Sebenarnya mungkin Afifah tidak bisa dibilang eksklusif banget karena beberapa hari pertama kelahirannya sempat terkena sufor. Itupun karena kebodohanku sendiri. Sedih sekali rasanya bila mengingatnya. Sebenarnya, sejak mendekati hari kelahiran aku sudah membekali diri dengan ilmu-ilmu seputar bayi, mulai dari IMD, ASI eksklusif serta cara merawat bayi. Sebelum melahirkan pun aku sudah berpesan ke bidannya, ‘saya mau IMD’. Namun ternyata harapan tinggal harapan. Aku berhasil melewati proses persalinan dengan segala kemudahan yang Allah berikan. Setelah melahirkan aku merasa masih ‘fresh’, Afifah (setelah dibersihkan dulu) ditempelkan ke aku untuk disusui, eh baru beberapa menit bayi nya diangkat karena takut kedinginan, gagallah IMD yang kurencanakan. Setelah itu, aku dibawa ke kamar perawatan , Afifah pun dibawa bersamaku, sekamar. Afifah masih banyak tidur, ketika kususui pun cuma ngenyot sebentar trus tidur lagi. Ternyata para bidan khawatir Afifah dehidrasi karena kurang minum, kata mereka bayi yang kurang cairan bias dehidrasi, bisa rawat inap di rumah sakit. Aku, yang notabene masih ibu baru, ikut khawatir, akhirnya diberilah Afifah susu formula. Padahal saat itu ASI ku sudah ada, tapi memang tidak banyak. Dari literature yang aku baca kemudian, ternyata bayi minumnya masih sedikit, bahkan bias bertahan 2 hari tanpa minum!karena kebodohanku, jadilah Afifahku tercemari sufor, bahkan pulang dari bidan juga dioleh-olehi sufor …..

Kegagalan IMD dan memberikan ASI sangat membebani pikiranku. Sesampai di rumah (aku melahirkan di rumah mertua di Semarang), hal itu masih terus teringat. Malam harinya, suami harus kembali ke Jakarta. Semakin sedihlah aku, kondisi masih capek karena habis melahirkan, ditinggal suami, harus mengurus anak sendirian (meski ada mertua, sebagai menantu tetap rikuh) semakin membuatku pusing. Pada malam harinya, Afifah sangat rewel, aku panik, membawa Afifah ke luar kamar sehingga mertua terbangun, akirnya dengan terpaksa diberilah Afifah Sufor lagi, begitupun siang harinya (Maafkan Ummi ya Nak…..) Aku sempat sering menangis tiba-tiba, merasa sangat tidak berguna, tidak bisa memberikan yang terbaik bagi anakku. Alhamdulillah suami, meskipun jauh, tetap memberikan dukungan. Akhirnya kupasrahkan semua kepada Allah, biarlah yang telah terjadi diikhlaskan, yang penting ke depannya Afifah harus mendapatkan yang terbaik. Akhirnya pada hari ketiga aku bertekad hanya memberikan ASI, meskipun saat itu masih sedikit dan Afifah juga terus menangis.

Alhamdulillah sampai hari ini Afifah masih ASI. Meskipun aku bekerja tetap kuusahakan memberinya ASI, caranya dengan memerah ASIku. Subhanallah, terasa sekali perjuangan seorang ibu yang ingin memberikan ASI kepada anaknya, mengingat sebagian besar ibu-ibu di Indonesia sepertinya telah termakan iklan, lebih memilih memberikan sufor kepada anak mereka. Mereka merasa sufor lebih baik, lebih kaya gizi daripada ASI (tentu saja karena tidak ada iklan tentang kelebihan ASI). Sering aku ditanya ‘anaknya pakai susu apa?’ ketika kujawab hanya ASI mereka biasanya heran, kok bisa ya?ada juga yang lenig memilih sufor karena tidak mau repot, repot bangun tengah malam untuk menyusui, tidak bisa pergi kemana-mana dll. Yang lucu, dikantorku ada mbak-mbak yang anaknya seumuran Afifah, lebih memilih sufor karena tidak mau repot, padahal, ternyata waktu dandannya sama dengan waktu ku memerah ASI…Yah sekali lagi itu semua adalah pilihan.

Memberikan ASI saja kepada Afifah membuatku benar-benar merasakan suka duka sebagai seorang itu. Tapi sesungguhnya semua itu akan menjadi kenangan manis yang tidak semua orang bisa merasakannya. Allah memberikan seorang ibu kedudukan yang lebih mulia dari seorang ayah pasti bukan tanpa alasan.. Mari kita menjemputnya.SEMANGAT!!!

Iklan

4 responses to this post.

  1. Posted by erika on 5 Maret 2010 at 08:23

    saya berusaha untuk memberikan asi sekuat tenaga saya, tapi tetap tidak bisa. sampai sekarang usia anak saya hampir 3 tahun saya masih sering menangis apabila teringat anak saya tidak mendapat asi sedikitpun..

    Balas

    • Posted by ummuiffah on 19 Maret 2010 at 10:01

      saya memahami perasaan mbak. Saya pun terkadang masih menyalahkan diri sendiri bila ingat Afifah sempat kena sufor. Tetapi jangan sampai berlarut-larut lho mbak, apalagi mempengaruhi cara pengasuhan kita terhadap anak kita. Yang pentig sekarang kan kita bisa merawatnya dengan sebaik-baiknya.
      Soal ASI eksklusif, bisa diusahakan lg kan untuk anak ke-2 dst…..

      Balas

  2. Posted by Wina on 12 Mei 2010 at 03:29

    Salam kenal mba..
    Subhanallah mba terharu baca tulisan mba, melow mungkin karena saya jg calon ibu yang akan mengalami hal2 ttg menyusui dan lainnya. Smg Afifah jadi anak yang shalehah ya mba 🙂

    Balas

  3. alhamdulillaah…
    selamat ya Afifah…

    Ulungku juga sudah lulus… 😉 (tos dulu) hehehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: