Gelombang Cinta

Gelombang Cinta

Pagi ini, ketika bersiap hendak berangkat ke kantor, secara tak sengaja saya melihat tanaman gelombang cinta milik suami. Tanaman itu merupakan souvenir dari pernikahan temannya. Atas saran dari mertua, gelombang cinta itu kami letakkan di atas rak buku di ruang tamu. Secara rutin kami menyiramnya. Nah, pas tadi pagi saya tak sengaja melihat, eh ternyata gelombang cinta itu tumbuh subur, pucuknya memanjang, tapi melengkung. Setelah saya perhatikan,o ternyata melengkungnya menuju ke arah sinar matahari. Hm wajarlah, soalnya di atas rak buku tersebut memang tidak kena sinar matahari, si Gelombang cinta ‘merindukan’ kehangatan sang matahari kayaknya, hi hi..

Pas di kantor teringat lagi pada Gelombang Cinta tadi. Seingat saya, saat SMP pernah juga melihat ‘fenomena’ itu. Dulu bahkan ‘fenomena’ itu sengaja dipakai untuk mengakali tugas sekolah. Jadi ceritanya ada tugas praktek Biologi yaitu menanam singkon memakai stek batang. Karena waktunya mepet, sengaja batang singkongnya di tanam di tempat yang sedikit sinar mataharinya, biar cepat tumbuh. Benar saja, beberapa hari kemudian muncul tunasnya. Memang lebih cepat panjang, tapi warna daunnya pucat, batangnya kecil dan lebih rapuh, batangnya ternyata cepat sekali patah. Pas melihat hasil tugas teman yang lain, terlihat bedanya. Singkong yang ditanam di tempat biasa, banyak sinar matahari dan udara namun tetap disiram dan dipupuk, terlihat lebih segar dan sehat meskipun lebih pendek.

Kemudian saya mencoba merenung. Sepertinya ‘fenomena’ seperti tanaman tadi bisa dihubungkan dengan pola pengasuhan anak saya. Sebagai orang tua tentu saya ingin yang terbaik bagi anak, menjaganya dari segala sesuatu yang bisa mengganggu atau merusaknya. Seperti tanaman tadi, saya bisa saja menjaga anak saya dengan membatasi pergaulannya, siapa temannya, kemana perginya dsb.

Pertimbangannya karena kondisi pergaulan saat ini yang semakin mengkhawatirkan, banyak sekali yang akan bisa mengganggu dan merusak perkembangannya. Atau bisa juga saya akan bertindak seperti tanaman yang ditaruh diluar, dibawah sinar matahari namun tetap disiram dan dipupuk tadi, membiarkannya bergaul dan berbaur dengan lingkungannya, namun tetap diawasi perkembangannya.

Pada tindakan yang pertama tadi, mungkin saya akan mendapatkan anak saya menjadi anak yang demikian manisnya, lurus, tanpa pernah ter’cemari’ oleh lingkungannya. Namun, ketika sudah saatnya ia keluar dari rumah hangatnya, ia akan mendapati keadaan yang sangat berbeda, apakah ia akan sanggup menghadapinya?tetap luruskah ia atau kepribadiannya terguncang?Sedangkan pada tindakan saya yang kedua, anak saya mungkin tidak akan se’lurus’ diatas, ia akan berwarna-warni, namun sesungguhnya disitulah seninya, seni menjadi orang tua. Seni, karena menjadi orang tua sungguh begitu indah.

Ya Allah, mampukan hamba menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak hamba. Amin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: