Weaning With Love (WWL)

 Weaning With Love (WWL) ini diartikan sebagai menyapih dengan cinta. Menyapih berarti melepaskan si anak dari ketergantungan terhadap ibunya selama masa menyusui. Menyapih ini merupakan proses yang sangat berat, karena saat menyusui merupakan saat terjadinya kontak batin yang paling erat antara seorang ibu dengan anaknya, bukan sekedar mencukupi kebutuhan nutrisinya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan dari semua pihak, anak dengan kesiapanya untuk lebih ‘mandiri’, ibu untuk rela kehilangan rasa ‘dibutuhkan’ oleh anaknya dan bahkan ayah dengan kesiapannya untuk membantu sang ibu dalam proses menyapih ini.

Orangtua jaman dahulu biasa mengoleskan sesuatu yang pahit, semisal brotowali, mahoni dll ke puting si ibu agar anak merasa pahit kemudian tidak mau menyusu lagi. Beberapa diantaranya langsung datang ke orang ‘pintar’ untuk minta suwuk (jampi-jampi) agar si anak lupa menyusu tanpa perlu rewel. Sekarang cara tersebut dianggap bisa menyakiti si anak. Si anak seperti dilepaskan secara paksa dari sesuatu yang disukainya.

Paradigma menyapih pun sekarang sudah bergeser. Jaman dahulu dan juga berdasarkan Al-qur’an, menyapih itu dilakukan di usia dua tahun. Keterangannya tertera dalam surah al-Baqarah ayat 233, Luqman ayat 14, dan al-Ahqaf ayat 15. Surah al-Baqarah ayat 233 menyebutkan , “Para ibu hendaklah menyusukan anakanaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”. Begitu juga dalam Alquran surah Luqman ayat 14. Ayat tersebut menjelaskan, “Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun…”. Sedangkan, dalam surah al-Ahqaf ayat 15 menyebut, “Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tunya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan…”. Hal ini berdasarkan asumsi bayi dalam Islam paling muda dilahirkan dalam usia kandungan enam bulan. Ditambah 24 bulan menyusu, jadi sama dengan 30 bulan. Jadi, dari ketiga surat tersebut Allah memang menghendaki menyapih anak pada usia dua tahun.

Sedangkan saat ini, ibu-ibu modern cenderung menganut paham bahwa menyapih tidak harus dilakukan pada usia 2 tahun, dasarnya adalah Pernyataan WHO dan UNICEF di Geneva pada tahun 2001, “Tidak ada keharusan anak disapih pada usia 2 tahun. Benar bila ibu menyusui bayi secara eksklusif di enam bulan pertama kehidupannya. Kemudian ASI dapat dilanjutkan secara bersamaan dengan MP-ASI hingga anak berusia 2 tahun. Tapi tidak ada keharusan kapan harus menyapih.” Penelitian Dewey KG, Pediatric Clinics of North American, tahun 2001, ASI masih boleh diberikan pada anak usia 2 tahun karena masih mengandung: 43% protein, 36% kalsium, 75% vitamin A, dan 60% vitamin C.

Inilah yang disebut dengan Weaning With Love (WWL), yaitu proses menyapih dilakukan secara pelan-pelan, tanpa menggunakan paksaan, dan menunggu kesadaran dari si anak untuk mau melepaskan diri dari menyusui. (Bersambung)

Iklan

2 responses to this post.

  1. Qisty udah WWL mba?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: