WWL-nya Afifah dan Qisthi

      Tiap anak punya ceritanya sendiri. Begitupun Afifah dan Qisthi saat kami mulai menyapihnya. Kami, karena menyapih bukan hanya peran seorang ibu tapi juga atas dukungan seorang ayah. Alhamdulillah..selama proses menyapih keduanya mendapat dukungan dari abinya.

        Afifah mulai disapih saat berumur 2 tahun. Sebenarnya, sejak berumur 15 bulan sudah ada adek bayi di perut umminya. Saat itu banyak pihak terutama keluarga yang menyarankan untuk menyapih Afifah. Alasannya kasian mbak afifah, nanti badannya bisa kurus. Namun, karena sudah membekali diri dengan artikel-artikel mengenai Nursing Whle Pregnant (menyusui ketika sedang hamil) kami tetap memutuskan untuk tetap memberikan ASI kepada Afifah. Terlebih tidak ada keluhan yang dirasakan pada kehamilan kedua selama menyusui Afifah.

       Mendekati milad ke-2 tahunnya, kami mulai khawatir. G mungkin rasanya tetap menyusui Afifah disamping menyusui adeknya. Meskipun ada beberapa artikel yang membahas tandem nursing, ketakutan akan kecemburuan Afifah terhadap adeknya membuat kami tetap memutuskan  untuk menyapihnya. Lagipula dia sudah 2 tahun, insyaAllah sudah sesuai dengan perintah menyusui anak selama 2 tahun dalam Alqur’an.

     Setelah membaca beberapa artikel mengenai WWL, kami bertekad akan menerapkannya pada Afifah. Menjelang usianya 21 bulan, kami mulai ngomong pelan-pelan bahwa mbak Afifah sudah besar g nen lagi..nen buat adek bayi…dia manggut2 aja..Saat usianya 2 tahun..saya benar-benar berhenti menyusuinya. Dan sesuai saran WWL, kami tidak memakai oles-olesan apapun maupun pergi ke orang pintar. Dugaan kami Afifah sudah mengerti, ternyata dia masih kaget. Untuk tidak nen pada siang hari masih bisa lah…tapi untuk malam hari kami harus berjuang keras.  Afifah punya kebiasaan bangun pada malam hari, 2-3 kali untuk menyusu. Saat kami menyapihnya, kami menyiapkan air putih dan susu uht untuk mengalihkannya. Ternyata itu tidak berhasil. Afifah yang memang punya kebiasaan tantrum, menangis2 dan teriak-teriak….kami mencoba membujuknya pelan-pelan. Namun tangisan dan teriakannya semakin keras. Kamipun terpancing, bukan lagi bujukan, tapi teriakan yang keluar dari mulut kami (sedih mengingatnya…maafkan kami ya nak..). Ketika abinya tersulut, Afifah menangis, akhirnya sayalah yang membujuknya. Saya meyetel vcd anak2 kesukaan Afifah..kemudian dia saya baringkan di depan tv. Sambil menonton, akhirnya matanya terpejam…Tragedi tu berlangsung seminggu lamanya. Pada malam ke delapan..ketika mau bobo tiba2 Afifah bilang ‘Mb Afifah g nenen lagi..nenennya buat adek bayi y ummi..” duh terenyuh hati saya. Malam harinya dan malam2 berikutnya afifah sama sekali tidak minta nen. Alhamdulillah…terima kasih ya Allah.

        Kalau ingat saat menyapih itu..perasaan bersalah masih saja menghampiri. Perasaan bersalah karena ‘hadirnya’ adeknya terlalu awal, sebelum dia berusia 2 tahun..sehingga kami menjadi terburu-buru menyapihnya. Dan perasaan bersalah karena kami telah bersikap kurang baik saat masa2 menyaph itu. Makasih ya Mbak Afifah sudah membantu Abi Ummi….

(Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: