Resep Ayam Madu

Ayam mungkin merupakan bahan makan yang paling gampang diolah. Ayam ini bisa divariasikan menjadi berbagai jenis masakan. Kali ini, saya mencoba meramu ayam dengan memanfaatkan madu, dengan harapan, selain mendapatkan gizi dari ayam juga mendapatkan manfaat dari madu yang sudah terkenal luas.

Bahan   :

  • Paha/dada ayam 5 potong
  • Madu 3-5 sdm

Bumbu :

  • Bawang putih 4 siung, diiris tipis
  • Bawang Bombay secukupnya, diiris
  • Merica secukupnya
  • Ketumbar secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Kecap manis 1 sdm
  • Laos secukupnya
  • Saos tomat secukupnya
  • Tepung kanji secukupny

Cara memasak :

  1. Buat ayam ungkep. Caranya : Haluskan bawang putih, ketumbar dan garam. Rebus ayam yang sudah dibersihkan, masukkan bumbu halus dan laos. Tunggu sampai airnya tinggal sedikit dan bumbunya meresap.
  2. Goreng ayam yang telah diungkep tadi.
  3. Haluskan bawang putih, merica dan garam. Panaskan minyak, tumis irisan bawang Bombay dan bumbu yang telah dihaluskan. Setelah harum, tambahi dengan air, saos tomat , kecap manis dan madu. Kentalkan dengan tepung kanji
  4. Setelah mendidih, masukkan ayam ungkep yang telah digoreng, kecilkan api, tunggu sampai kuahnya meresap.
  5. Ayam madu siap dihidangkan
Iklan

MPASI AFIFAH (Edisi 6 Bulan)

MPASI AFIFAH (Edisi 6 Bulan)

Alhamdulillah Afifah berhasil lulus Asi Eksklusif. Sesuai anjuran dari WHO, mulai bulan keenam ini Afifah sudah bisa mulai makan. Hal ini karena ASI saja sudah tidak mencukupi untuk menunjang aktivitasnya yang banyak. Setelah ummi amati juga, pertambahan berat badannya juga tidak terlalu banyak, mungkin karena energinya banyak terkuras untuk geraknya.

Setelah searching-searching di mbah google, akhirnya ummi memutuskan untuk memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang homemade, alias ummi bikin sendiri. Alasannya sih selain lebih hemat, kualitas terjamin (karena yang alami kan lebih baik) juga mudah mendeteksi kalau-kalau ada alergi (karena sepertinya ada bakat alergi, dari abinya…). Jauh-jauh hari sudah disiapkan alat dan bahan-bahan nya..deg-deg an, harap-harap cemas, semoga maem yang pertama nanti berhasil.

Akhirnya hari yang dinanti tiba. Alhamdulillahnya jatuh pas hari minggu, jadi maem pertama yang masuk ke mulut Afifah berasal dari tangan umminya. Pagi-pagi ummi sibuk di dapur, memasak maem Afifah. Menu hari itu adalah bubur beras meras. Ummi sengaja buat encer agar mudah menelannya, dan ditambahi ASI biar tidak asing dengan rasanya. Dan, tanpa gula dan garam loh ya, karena bayi sampai dengan 1 tahun sebaiknya jangan dulu mengkonsumsi gula garam, dikhawatirkan memperberat kerja ginjalnya. Ummi cicipi dulu buburnya, ih aneh, hambar..ga ada rasanya. Tapi, surprise….Alhamdulillah…Afifah ternyata suka, lahap sekali maemnya. Ummi jadi pe de mencoba menu yang lainnya.

Hari-hari berikutnya, ummi makin semangat masak buat Afifah, inilah beberapa bubur yang berhasil ummi buat. Oh ya, masing-masing bubur diuji coba selama 3 hari dulu lho ya, untuk menguji apa ada alergi.

 Makan Berat (Serealia)

Bubur Beras Merah

Bahan   :  Tepung beras merah 2 sdm

Air secukupnya

ASI

Cara memasak :

Masukkan tepung terigu ke dalam panci, beri air kemudian masak hingga mendidih. Setelah matang, matikan apinya. Usahakan jangan terlalu kental, biarkan agak encer. Setelah agak dingin, tambahkan ASI secukupnya.

 

Bubur Beras Putih

Bahan   :  Tepung beras putih 2 sdm

Air secukupnya

ASI

Cara memasak :

Masukkan tepung Beras Putih ke dalam panci, beri air kemudian masak hingga mendidih. Setelah matang, matikan apinya. Usahakan jangan terlalu kental, biarkan agak encer. Setelah agak dingin, tambahkan ASI secukupnya.

 

Bubur Kacang Hijau

Bahan   :  Tepung Kacang Hijau 2 sdm

Air secukupnya

ASI

Nah berhubung di pasaran tidak menemukan tepung kacang hijau, ummi akhirnya membuat sendiri tepungnya.

Caranya :

Kacang hijau direndam air semalam (biar lebih empuk). Buang airnya, jemur atau angin-anginkan. Setelah agak kering  goreng sangan (goreng dalam wajan tanpa minyak), goreng sampai kacang hijaunya benar-benar kering. Nah, setelah kering diblenderlah kacang hijau tadi sampai halus. Trus saring. Siap deh dimasak.

Cara memasak :

Masukkan tepung Kacang Hijau ke dalam panci, beri air kemudian masak hingga mendidih. Setelah matang, matikan apinya. Usahakan jangan terlalu kental, biarkan agak encer. Setelah agak dingin, tambahkan ASI secukupnya.

Sembilan Bulan Afifah

Sembilan Bulan Afifah

Alhamdulillah, engkau telah genap 9 bulan hari ini nak. Cepat sekali, rasanya baru kemarin kami menggendongmu, sebagai bayi merah yang mungil, putih dan lucu. Hm…kini engkau sudah besar (meski badanmu mengecil), makin cantik dan lucu.

Alhamdulillah,, segala puji selalu kami sanjungkan ke Allah, atas karunianya yang sangat besar kepada kami, yaitu engkau. Sungguh, engkau adalah anugerah terbesar bagi kami. Kehadiranmu memberi warna dalam kehidupan ummi, berwarna-warni seperti pelangi. Engkau hiasi hari-hari kami yang dulu sepi menjadi penuh arti dengan tawamu, celotehmu, bahkan tangismu.

Kehadiranmu memberikan banyak pelajaran bagi kami. Engkau ajari kami keikhlasan saat harus merawatmu, memerah ASI saat ummi bekerja dan membuatkan MPASI homemade, agar engkau mendapatkan yang terbaik.  Engkau ajari kami akan pentingnya sebuah proses saat melihatmu tumbuh setahap demi setahap. Engkau ajari kami kesabaran saat kadang menghadapi tingkahmu yang membuat kami geleng-geleng kepala, kesabaran saat orang-orang berkomentar saat melihatmu tidak tumbuh dan berkembang secepat teman-temanmu yang lain. Sungguh, semua itu pelajaran yang sangat berharga bagi kami.

Maafkan kami nak, mungkin kami belum bisa memberi yang terbaik, yang seharusnya orangtua berikan kepada anaknya.  Sungguh, seperti dirimu yang terus belajar, kamipun sedang belajar nak, belajar menjadi orangtua yang terbaik bagimu, menjadi orangtua yang bisa mengantarkan anaknya menjadi orang yang berguna di dunia dan akhirat.

Ya Allah, mampukan kami menjadi orangtua yang baik bagi anak kami. Jadikan anak kami menjadi anak yang berguna di dunia dan akhirat. Jadikan kehadirannya menambah jumlah orang-orang yang menegakkan agamamu. Karuniakanlah ia dengan keluasan ilmu, kedalaman pikiran dan ketekunan ahli ibadah. Amin

Spagheti Jagung Manis

Spagheti Jagung Manis

Spagheti Jagung Manis Berawal dari pengennya suami dibuatkan spaghetti Saus Bolognise, karena saya paling males kalo disuruh beli bumbu jadi, jadilah saya dengan modal nekat membuatnya. Eh, bukan saus Bolognise sih, pokoknya spaghetti di saus-in deh,,eh…ternyata suami suka 😉 Alhamdulillah.

Bahan :

1 bungkus spaghetti

Air

Sedikit minyak

Bumbu :

1 buah jagung manis, pipil

¼ kg daging, cincang

1 buah bawang Bombay, iris-iris

2 buah tomat, rebus

1 sdm saus tomat

3 siung bawang putih, iris

1 sdm maizena

Merica

Garam

Gula

Air

Cara memasak :

  1. Rebus air, tambahkan sedikit minyak, setelah benar-benar mendidih masukkan spaghetti. Setelah 5 menit, angkat.
  2. Hancurkan tomat yang sudah direbus.
  3. Tumis bawang putih dan bawang Bombay sampai harum, kemudian masukkan daging dan jagung manis.
  4. Tambahkan tomat, saus tomat, merica dan air.
  5. Tambahkan garam dan gula sesuai selera
  6. Kentalkan dengan maizena
  7. Sesudah mendidih, siramkan ke atas spaghetti
  8. Siap disajikan.

Memerah Pakai Tangan

Sebelum mulai masuk kerja, saya mulai belajar memerah. Saya ingin tetap memberikan ASI full kepada afifah, meskipun umminya sedang bekerja. Awalnya ingin tetap mencoba pake tangan, biar ngirit dan praktis. Karena minim pengetahuan, bukannya dapat ASI banyak, yang ada tangan dan PD merah-merah, sakit semua. Sebenarnya, setelah melahirkan sempat tanya-tanya ke bidan tentang cara memerah, setelah dipraktekkan ternyata hasilnya tidak maksimal.

Hari masuk kerja semakin dekat, tetapi saya belum juga punya stok ASIP. Akhirnya nyerah deh, beli pompa ASI. Setelah beberapa bulan, saya mulai mencoba lagi memerah memakai tangan. Ceritanya, saya ikut milis Asiforbaby, nah di milis itu banyak dijelaskan cara memerah memakai tangan. ‘Hm… kelihatannya mudah’ pikir saya. Setelah beberapa kali mencoba, mulai tampak hasilnya.

Memerah memakai tangan ini relatif mudah untuk dilakukan. Langkah-langkahnya :

  1. Siapkan perlatan yang diperlukan, diantaranya botol kaca untuk menampung ASIP dan tisu untuk mengelap.
  2. Pilihlah tempat yang bersih dan steril.
  3. Cuci bersih kedua tangan
  4. Bersihkan kedua PD
  5. Duduklah dengan posisi senyaman mungkin
  6. Pancinglah LDR (Let Down Reflect-ini yang membuat ASI mengalir deras) dengan cara meng-kilik putting dengan ibu jari atau ujung leher botol
  7. Setelah terasa nyutt (ini menandakan adanya LDR) segera arahkan botol ke puting. Pastikan puting berada di leher botol.
  8. Segera pencet-pencet daerah tepat dibawah dan di sekitar aerola (lingkaran hitam di bawah puting). Ingat, hanya tekan, jangan gesek, karena bisa lecet.
  9. Perahlah dengan cepat dan mulai dari satu PD saja
  10. Setelah terasa kosong, mulai pada PD yang satunya.
  11. Setelah LDR selesai (aliran ASI mulai lambat), pancing kembali LDR seperti cara diatas.
  12. Setelah PD terasa kosong, segera akhiri.

Cukup mudah kan?? Pertama-pertama mencoba mungkin akan belum kelihatan hasilnya, tapi insyaAllah lama-lama akan terlihat. Pengalaman saya sih, memerah pakai tangan lebih mudah (tidak terlalu capek), lebih praktis (tidak perlu membawa ‘alat perang’ dan bisa dilakukan dimana saja) dan hasilnya lebih banyak.

Gelombang Cinta

Gelombang Cinta

Pagi ini, ketika bersiap hendak berangkat ke kantor, secara tak sengaja saya melihat tanaman gelombang cinta milik suami. Tanaman itu merupakan souvenir dari pernikahan temannya. Atas saran dari mertua, gelombang cinta itu kami letakkan di atas rak buku di ruang tamu. Secara rutin kami menyiramnya. Nah, pas tadi pagi saya tak sengaja melihat, eh ternyata gelombang cinta itu tumbuh subur, pucuknya memanjang, tapi melengkung. Setelah saya perhatikan,o ternyata melengkungnya menuju ke arah sinar matahari. Hm wajarlah, soalnya di atas rak buku tersebut memang tidak kena sinar matahari, si Gelombang cinta ‘merindukan’ kehangatan sang matahari kayaknya, hi hi..

Pas di kantor teringat lagi pada Gelombang Cinta tadi. Seingat saya, saat SMP pernah juga melihat ‘fenomena’ itu. Dulu bahkan ‘fenomena’ itu sengaja dipakai untuk mengakali tugas sekolah. Jadi ceritanya ada tugas praktek Biologi yaitu menanam singkon memakai stek batang. Karena waktunya mepet, sengaja batang singkongnya di tanam di tempat yang sedikit sinar mataharinya, biar cepat tumbuh. Benar saja, beberapa hari kemudian muncul tunasnya. Memang lebih cepat panjang, tapi warna daunnya pucat, batangnya kecil dan lebih rapuh, batangnya ternyata cepat sekali patah. Pas melihat hasil tugas teman yang lain, terlihat bedanya. Singkong yang ditanam di tempat biasa, banyak sinar matahari dan udara namun tetap disiram dan dipupuk, terlihat lebih segar dan sehat meskipun lebih pendek.

Kemudian saya mencoba merenung. Sepertinya ‘fenomena’ seperti tanaman tadi bisa dihubungkan dengan pola pengasuhan anak saya. Sebagai orang tua tentu saya ingin yang terbaik bagi anak, menjaganya dari segala sesuatu yang bisa mengganggu atau merusaknya. Seperti tanaman tadi, saya bisa saja menjaga anak saya dengan membatasi pergaulannya, siapa temannya, kemana perginya dsb.

Pertimbangannya karena kondisi pergaulan saat ini yang semakin mengkhawatirkan, banyak sekali yang akan bisa mengganggu dan merusak perkembangannya. Atau bisa juga saya akan bertindak seperti tanaman yang ditaruh diluar, dibawah sinar matahari namun tetap disiram dan dipupuk tadi, membiarkannya bergaul dan berbaur dengan lingkungannya, namun tetap diawasi perkembangannya.

Pada tindakan yang pertama tadi, mungkin saya akan mendapatkan anak saya menjadi anak yang demikian manisnya, lurus, tanpa pernah ter’cemari’ oleh lingkungannya. Namun, ketika sudah saatnya ia keluar dari rumah hangatnya, ia akan mendapati keadaan yang sangat berbeda, apakah ia akan sanggup menghadapinya?tetap luruskah ia atau kepribadiannya terguncang?Sedangkan pada tindakan saya yang kedua, anak saya mungkin tidak akan se’lurus’ diatas, ia akan berwarna-warni, namun sesungguhnya disitulah seninya, seni menjadi orang tua. Seni, karena menjadi orang tua sungguh begitu indah.

Ya Allah, mampukan hamba menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak hamba. Amin

ALHAMDULILLAH….(LULUS) (S1) ASI !!!!

Tanggal 4 Oktober kemarin menjadi saat istimewa buatku. Alhamdulillah, segala puji terucap bagi Allah, anakku tersayang, Afifah genap 6 bulan, yang berarti lulus ASI eksklusif. Bahagia sekali rasanya mengingat perjuanganku selama 6 bulan ini akhirnya berbuah manis. Terbayang kembali saat-saat penuh pengorbana pada awal-awal dulu. Alhamdulillah………….

Sebenarnya mungkin Afifah tidak bisa dibilang eksklusif banget karena beberapa hari pertama kelahirannya sempat terkena sufor. Itupun karena kebodohanku sendiri. Sedih sekali rasanya bila mengingatnya. Sebenarnya, sejak mendekati hari kelahiran aku sudah membekali diri dengan ilmu-ilmu seputar bayi, mulai dari IMD, ASI eksklusif serta cara merawat bayi. Sebelum melahirkan pun aku sudah berpesan ke bidannya, ‘saya mau IMD’. Namun ternyata harapan tinggal harapan. Aku berhasil melewati proses persalinan dengan segala kemudahan yang Allah berikan. Setelah melahirkan aku merasa masih ‘fresh’, Afifah (setelah dibersihkan dulu) ditempelkan ke aku untuk disusui, eh baru beberapa menit bayi nya diangkat karena takut kedinginan, gagallah IMD yang kurencanakan. Setelah itu, aku dibawa ke kamar perawatan , Afifah pun dibawa bersamaku, sekamar. Afifah masih banyak tidur, ketika kususui pun cuma ngenyot sebentar trus tidur lagi. Ternyata para bidan khawatir Afifah dehidrasi karena kurang minum, kata mereka bayi yang kurang cairan bias dehidrasi, bisa rawat inap di rumah sakit. Aku, yang notabene masih ibu baru, ikut khawatir, akhirnya diberilah Afifah susu formula. Padahal saat itu ASI ku sudah ada, tapi memang tidak banyak. Dari literature yang aku baca kemudian, ternyata bayi minumnya masih sedikit, bahkan bias bertahan 2 hari tanpa minum!karena kebodohanku, jadilah Afifahku tercemari sufor, bahkan pulang dari bidan juga dioleh-olehi sufor …..

Kegagalan IMD dan memberikan ASI sangat membebani pikiranku. Sesampai di rumah (aku melahirkan di rumah mertua di Semarang), hal itu masih terus teringat. Malam harinya, suami harus kembali ke Jakarta. Semakin sedihlah aku, kondisi masih capek karena habis melahirkan, ditinggal suami, harus mengurus anak sendirian (meski ada mertua, sebagai menantu tetap rikuh) semakin membuatku pusing. Pada malam harinya, Afifah sangat rewel, aku panik, membawa Afifah ke luar kamar sehingga mertua terbangun, akirnya dengan terpaksa diberilah Afifah Sufor lagi, begitupun siang harinya (Maafkan Ummi ya Nak…..) Aku sempat sering menangis tiba-tiba, merasa sangat tidak berguna, tidak bisa memberikan yang terbaik bagi anakku. Alhamdulillah suami, meskipun jauh, tetap memberikan dukungan. Akhirnya kupasrahkan semua kepada Allah, biarlah yang telah terjadi diikhlaskan, yang penting ke depannya Afifah harus mendapatkan yang terbaik. Akhirnya pada hari ketiga aku bertekad hanya memberikan ASI, meskipun saat itu masih sedikit dan Afifah juga terus menangis.

Alhamdulillah sampai hari ini Afifah masih ASI. Meskipun aku bekerja tetap kuusahakan memberinya ASI, caranya dengan memerah ASIku. Subhanallah, terasa sekali perjuangan seorang ibu yang ingin memberikan ASI kepada anaknya, mengingat sebagian besar ibu-ibu di Indonesia sepertinya telah termakan iklan, lebih memilih memberikan sufor kepada anak mereka. Mereka merasa sufor lebih baik, lebih kaya gizi daripada ASI (tentu saja karena tidak ada iklan tentang kelebihan ASI). Sering aku ditanya ‘anaknya pakai susu apa?’ ketika kujawab hanya ASI mereka biasanya heran, kok bisa ya?ada juga yang lenig memilih sufor karena tidak mau repot, repot bangun tengah malam untuk menyusui, tidak bisa pergi kemana-mana dll. Yang lucu, dikantorku ada mbak-mbak yang anaknya seumuran Afifah, lebih memilih sufor karena tidak mau repot, padahal, ternyata waktu dandannya sama dengan waktu ku memerah ASI…Yah sekali lagi itu semua adalah pilihan.

Memberikan ASI saja kepada Afifah membuatku benar-benar merasakan suka duka sebagai seorang itu. Tapi sesungguhnya semua itu akan menjadi kenangan manis yang tidak semua orang bisa merasakannya. Allah memberikan seorang ibu kedudukan yang lebih mulia dari seorang ayah pasti bukan tanpa alasan.. Mari kita menjemputnya.SEMANGAT!!!