Para Pemburu Lailatul Qadr (PPLQ)

night

Para Pemburu Lailatul Qadr (PPLQ)

21 Ramadhan 1430 H

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qodr : 1-5).

Sama seperti 10 malam terakhir di bulan Ramadhan tahun lalu, masjid ini semakin malam semakin ramai dipenuhi oleh kaum mukminin yang berniat menginap di rumah Allah. Tercatat jam 22.30 wib, ruang utama masjid sudah dipenuhi oleh mukminin lengkap dengan mushaf, sarung, dan tas perlengkapan mereka. Sedangkan para mukminat berada di lantai dua masjid. Ada juga di antara mereka, anak-anak yang kurang lebih berusia 10 tahun, turut serta menemani orangtuanya bermalam di masjid. Tak bisa luput pula dari pandangan, dua orang yang sudah cukup sepuh, turut meramaikan masjid ini dengan bacaan tilawahnya.

Ada apa gerangan dengan mereka?

Mereka adalah Para Pemburu Lailatul Qadr. Mereka yang memilih masjid Bait At-Taqwa Kantor Pusat Ditjen Bea Cukai Rawamangun sebagai tempat untuk berburu itu. Mereka banyak bertilawah, sholat sunnah, berdzikir, berdo’a, dan juga mengikuti kajian yang disediakan oleh panitia I’tikaf dengan menghadirkan para asatidz dari Al-Manar. Dengungan bacaan tilawah para pemburu itu menggema di ruang utama masjid yang ber-AC, sangat meneduhkan.

Malam tadi adalah malam yang sejuk, tidak turun hujan, tidak panas, tidak dingin, tidak pula dirasakan hawa yang kurang bersahabat. Sangat indah. Menurut Anas bin Malik, ibadah seperti shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, dan amal sosial (seperti zakat, infak, sedekah) yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan. Tak heran jika banyak kaum mukmin yang rela meninggalkan hangatnya selimut dan empuknya kasur demi menggapai malam yang penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.

Bahkan ada pegawai atau karyawan yang mengambil cuti, demi mendapatkan full 10 malam hari terakhir di bulan Ramadhan, beri’tikaf di masjid. Ada juga para blogger (baik blogger ngontrak maupun mbayar) yang berpamitan dari ranah daring untuk memburu malam lailatul qadr itu. Mereka semua mempersiapkan perburuan mulia ini dengan sebaik mungkin. Sebuah perburuan yang penuh dengan keberkahan.

“Oh ya, terkait dengan blog mbayar (artinya blog yang menggunakan hosting berbayar), bagi blogger yang ingin mencoba pindah rumah, dari yang ngontrak ke rumah sendiri, coba aja menggunakan layanan  hosting dari dijaminmurah.com. Sebuah penyedia layanan hosting dengan slogan “Hosting Indonesia Termurah” yang memberikan layanan web hosting yang murah, cepat, dan yang sesuai dengan kebutuhan. Dan saat ini sedang mengadakan lomba blog dijaminmurah.com

Bacaan Qur’an imam sholat qiyam al-lail sangat menyentuh, hingga tak tertahankan air mata pun menetes, meresapi setiap ayat Al-Qur’an. Tak jarang imam tersebut mengulang-ulang ayat yang mengingatkan pada kenikmatan juga pada azab. Waktu 1 jam untuk mendirikan malam (qiyam al-lail) tak terasa telah dilalui sebagai upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan umat muslim.

Sahur bersama menjadi sangat berkesan karena ada saja cerita hikmah yang muncul dalam pembicaraan. Begitulah khas pembicaraan orang-orang yang bertakwa, senantiasa membawa hikmah. Sambil menguatkan kembali ikatan silaturrahim yang mungkin sempat kendur, makan sahur pun menjadi lebih nikmat. Waktu shubuh pun tiba dan para pemburu ini bersiap untuk menghadap Allah dalam ibadah sholat shubuh berjama’ah.

Ah, sungguh indah nuansa perburuan di bulan Ramadhan ini. Sebuah perburuan yang pada hakikatnya adalah upaya untuk menggapai ridho Allah SWT. Menyemangati diri dengan semangat kebaikan dan keimanan yang kuat dalam menapaki malam-malam perburuan selanjutnya. Lailatul qadr, malam penuh kemuliaan.

Semoga kita bisa memaksimalkan ibadah kita di 10 hari terkahir bulan Ramadhan ini dan semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin.

Salam.

Iklan

Milad????

“Met milad ya yang ke…. semoga…..ya”
Kata-kata ini pasti sering banget kita dengar. Biasanya ini diucapkan ketika ada teman yang pada hari itu dia dilahirkan, entah berapa tahun yang lalu. Kalo orang kebanyakan biasanya memakai selamat ulang tahun, happy birthday, de el el.lhah, trus apa bedanya??? Bedanya terletak pada penggunanya. Kalo selamat ulang tahun, biasanya dipakai oleh sebagian besar masyarakat, dari berbagai lapisan ekonomi, usia dsb. Nah, kalo milad ini biasanya dipakai oleh mereka yang sedikit lebih melek agama ataupun yang sedang serius belajar mendalami agama.

Penggunaan ucapan “met milad” ini dilandasi kesadaran bahwa dalam islam tidak ada yang namanya ulang tahun. Lha namanya orang islam ya perilakunya sesuai tuntunan agama islam, alias harus meneladani pembawa ajaran islam, yaitu Nabi Muhammad SAW. Sepanjang sejarah belum pernah ditemukan bukti bahwa Rasulullah pernah merayakan ulang tahun, menyanyikan lagu happy birthday, niup lilin, trus potong kue. Kalaupun sekarang ada masyarakat yang memperingati hari kelahirannya, itu atas inisiatif masyarakat itu sendiri. Selain itu, seseorang yang sedang ber-hari lahir berarti bertambah usianya, berarti pula berkurang jatah hidupnya di dunia ini dan waktunya untuk kembali ke negeri yang kekal abadi telah semakin dekat, dan itu bukan hal yang pantas untuk dirayakan.Dengan digunakannya ucapan “met milad” ini, diharapkan akan dapat menjauhi perilaku yang tidak sesuai tuntunan ketika bertepatan dengan hari kelahirannya, seperti yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita saat ini, seperti hura-hura, menghamburkan uang bahkan mabuk-mabukan.

Namun kenyataannya, kadang masih dijumpai, mereka yang menggunakan ucapan ini ternyata masih melakukan kegiatan yang bisa jadi masuk kategori merayakan, seperti mentraktir teman, memberi kado dll. Alasan yang biasa dipakai biasanya “mumpung ada moment nya, jadi g langsung tiba-tiba, g ada angin g ada hujan”. Bukankah kebaikan, seperti mentraktir dan memberi kado itu bisa dilakukan kapanpun tanpa harus menunggu pas hari lahirnya? Jangan sampai yang terjadi hanya perbedaan pengucapan di mulut tapi isinya sama. Seyogyanya hari lahir menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi diri, menimbang apa yang sudah kita lakukan selama ini, apakah lebih banyak kebaikan atau keburukan dan kemudian bertekad untuk menjadikan diri lebih baik lagi, karena barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia adalah orang yang beruntung.

Afifah Salma Fauziyah

salma cantik

jilbab salma

IMG_0778